Wednesday, March 12, 2014

Tugasku Berat

0 comments

Berat meyakinkan perasaan kita ke seseorang yang jauh dalam hatinya masih menyimpan kenangan bersama orang yang pernah dia cintai dulu ataupun sekarang. Karena melupakan itu butuh waktu, tak bisa dipaksakan. Entah sampai kapan, kita hanya bisa menunggu. Daripadanya tugas berat menanti yaitu menjaga perasaan dan membuat dia nyaman seolah tanpa luka.

Pentingnya kehadiran kita untuk menghibur dan menemaninya. Menghindari dia dari sepi yang dalamnya bagian dari usaha untuk membuka memori lama yang susah untuk dilupakan. Sedikit banyak ada ruang tersendiri di hatinya, di sudut kecil dalam pikirannya, ada seseorang spesial yang pernah menemaninya dan bersama dalam bahagia. Entah sosok kita yang baru diterima dan mampu mengisi hatinya kembali, atau mungkin saja tidak dan hanya sebagai tempat mencurahkan segala keluh kesah. Maka dari itu, meyakinkan itu susah. Tugasku berat.

Untukmu, apapun aku lakukan dalam batas logika. Semampuku dengan lebih akan aku usahakan. Tidak menyerah meski ujungnya akan sia-sia. Serta tak menyalahkan keadaan atau pun dia, karenanya kamu seperti ini. Kita dalam pikiran yang berbeda arah. Dalam hariku, memikirkanmu. Sedangkan kamu memikirkannya. Merasa kehilangan tanpa peduli aku disini disampingmu untuk mengobati. Semoga dengan kesederhanaan ini, tanpa membandingkan diri dengan dia yang sebelumnya, aku bersungguh-sungguh untukmu. 
Lanjut baca? Mari~ »

Tuesday, January 21, 2014

Tentang Menunggu dan Melangkah Pergi

0 comments


Menunggu sangat membosankan. Terlebih jika menunggu yang tak pasti.

Berkaitan dengan hati, menunggu yang tak pasti bakal dihiraukan, dengan berbicara perasaan dan sebuah harapan. Jika memang cinta dan setia, akan terus ditunggu sampai lelah dan benci mengambil alih kuasa dalam diri.

Banyak yang tersimpan dalam ‘Menunggu’, dalam kata lain juga ‘Menanti’. Ada banyak harapan yang terkandung didalamnya, ada banyak perasaan mencampuradukkan rindu dan ketidakyakinan. Semua kembali kepada awal, apa atau siapa yang ditunggu, entah itu pasti atau tidak. Terkadang perasaan menipu diri sendiri, membuat harap yang pada akhirnya mendapatkan kosong dengan berbagai alasan yang meneguhkan diri untuk tidak berpaling.

Sebab cahaya tak melewati hanya satu lorong, kau perlu melangkah mencari cahaya sendiri. Jangan bergantung pada satu, ketika ditinggalkan, kau akan hampa. Lebih baik mengorbankan perasaan lalu melangkah pergi daripada diam tak tentu arah yang justru menyakiti diri sendiri. Apa yang kau cari? Hati? Tidak, akan ada luka yang menghampiri.

Lepaskan rindumu, lepaskan harapanmu dari seseorang yang tak mampu memberimu masa darinya. Kau hanya terjebak di masa lalu, tidak untuk masa depannya.  Ada kebahagian yang menghampiri jika kau mencari dan mencoba berbeda dari kebiasaan sebelum bersamanya. Karena cinta, menunggu tak mengenal pasti atau tidak. 
Lanjut baca? Mari~ »

Monday, January 13, 2014

Cinta Tak Terbalas

0 comments


Mungkin jalanku mengalami hal ini, merasakan apa yang namanya ‘Cinta Tak Terbalaskan’? Pedih? Tentu saja. Ketika permulaannya hanya bisa diam-diam menyimpan perasaan, memperhatikan dari jauh orang yang disuka, dan berharap suatu waktu bisa bersama berdua. Dan saat ini itu hanyalah semu. Apa yang terjadi, berbeda dari ekspektasi, membuyarkan semua khayalan tentangmu dan mimpi tentang kita.

Cinta tak terbalas dihadap pada sebuah dinding penghalang. Berpikir bagaimana cara melewatinya, bukan cara meruntuhkannya. Dinding itulah bernama “sebatas teman biasa”. Berbeda? Tidak. Namun ada sesuatu yang ditelisik baik-baik, yaitu menyimpan perhatian yang dalam. Adanya kasih sayang yang lebih dari seorang teman, yang tidak ditunjukkan secara nyata.

Tersembunyi. Seperti tidak ada namun ada.

Cinta tak terbalas. Perasaan yang hanya bisa menggapai, tidak bisa menggenggam. Tidak saling memiliki, hanya pada satu hati. Menyampaikan pesan namun tak terkirim. Membawa seikat bunga namun tersembunyi dibelakang punggung. Menyanyikan lagu yang liriknya dari hati, namun hanya bisa didengar sendiri. Tidak  bisa menunjukkan, hanya bisa disimpan. Yang nantinya akan menjadi pengganjal hati, menyadari diri sendiri miris tanpa berani mengungkapkan.

Aku hanya bisa menjadi pendengar. Memberi sedikit hadiah sebagai bukti dari cinta. Berharap agar kamu peka dan mengerti. Namun, apa yang kamu lihat tentangku, tidak begitu istimewa. Sebab aku tidak sama sekali seperti orang yang mempunyai kepastian. Bimbang dengan persoalan hati yang enggan untuk berbagi.

Keraguanlah yang membunuhku. Tidak menyadari bahwa kesempatan itu diciptakan, bukan dinanti sampai ada. Lalu apa? Dia kemudian pergi. Dengan seorang pria yang menjadi kekasih barunya yang berani memberikan janji. Sedangkan aku, masih seperti itu,seorang pengagum diam. Tak ada kata yang diungkapkan, hanya perasaan yang berusaha sendiri menemui jawabannya. 
Lanjut baca? Mari~ »

Wednesday, January 8, 2014

Mungkin Belum Saatnya

0 comments
Telah lama saling kenal. Tak ada hubungan khusus, hanya sebatas teman. Ya itu kita. Kau dan aku. Saling mengetahui dan memahami, karena banyak cerita yang kita ungkapkan. Banyak curhatanmu yang aku dengar, banyak tangisanmu yang aku perhatikan. Dan sekali lagi, kita hanya sebatas teman. Hanya cerita yang bisa diungkapan, tidak dengan perasaan.

Aku suka denganmu, bisa saja ini cinta. Tetapi belum tentu denganmu. Ketika aku menatap matamu dikala perbincangan hangat antara kita berdua, melihat matamu, membaca arti pandanganmu, sedikit banyak aku tahu jika aku hanya seorang teman. Teman yang mampu mengerti akan keluh kesahmu. Dan mencoba berada di sampingmu ketika membutuhkanku. Itu semua aku lakukan karena aku sayang dan cinta, mungkin. Dan aku mencoba dalam batasnya hanya sebagai seorang teman.

Pertanyaan tentang keberadaanku untukmu, yang aku sendiripun tak tahu jawabannya. Apakah itu kau menganggapku hanya salah satu teman dari yang kau punya, atau mungkin kita mempunyai perasaan yang sama, hanya saja masih tersimpan dan enggan untuk mengutarakan. Masih tertinggal di benakku, jauh sebelum kedekatan kita saat ini, awal dari perkenalan kita tanpa ada rasa apapun, berkenalan, hanya ingin tahu wujud dan nama.

Dan benar, cinta itu tak langsung ada. Tumbuh secara perlahan, tanpa diduga. Kemudian semesta yang menentukan dan memegang kehendak untuk mendekatkan kita. Waktu yang berjalan,  tanpa sadar, aku telah jauh menggunakan perasaan di dalamnya, di dalam kedekatan ini. Aku tahu ini percuma. Akan ada perasaan yang tak terbalaskan. Walaupun aku belum tahu apa pikirmu terhadap isi hati, semoga ini tetap menjadi teman.

Mungkin belum saatnya kita lebih dari saat ini. Mungkin juga belum saatnya kita ditakdirkan untuk, saling cinta. Tetapi kita masih bersama, dalam sebuah pertemanan yang berbeda. 

Lanjut baca? Mari~ »

Wednesday, January 1, 2014

Cinta Pertama

0 comments

Kemaren malam tahun baruan, saya gak ada pergi jalan-jalan. Lagi bikin cerpen yang bertemakan Cinta Pertama. Soalnya, saya lagi ikut lomba gitu dan deadline pengumpulan cerpen itu tanggal 31 Desember 2013. Buru-buru banget nulisnya, bayangkan, nulis cerpen itu dalam waktu dua jam untuk 6 halaman! The Power of Kepepet.


Nih, saya mau berbagi gimana cerpen bertemakan Cinta Pertama. Hope you like it :))
________________________________________________________________________

Cinta Pertama: Kimia dan Kamu

Ketika itu aku masih malu. Sekedar memuja dan merahasiakan. Membayangkanmu di penghujung malam sebelum aku menutup mata. Ya benar, aku jatuh cinta. Senyummu berbeda, bukan untukku, apalagi mengarah kepadaku. Aku hanya melihatnya, dan aku suka. Sebelumnya aku belum pernah jatuh cinta. Aku hanya sekedar suka. Dengan melihatmu, aku mungkin sedikit memahami, bahwa suka itu bagian dari cinta. Perkenalan kita sepihak. Aku tahu kamu, tidak begitu denganmu padaku. Inilah mengagumi, hanya bisa dipendam. Nekat dan tekadku belum ada. Menyatakannya padamu mungkin bagian terburuk dari bunuh diri yang pernah aku pikir.

Siapa aku. Kalimat yang menghalangiku untuk maju, sekedar tegur sapa bagian awal dari aku mendekatimu. Aku bukan siapa. Mengenal aku olehmu belum tentu, aku rasa. Kita sering berpapasan di lorong sekolah. Aku melirik, dan kau tidak. Kau hanya menunduk, entahlah aku tak tahu apa yang kau lihat dan pikirkan. Khayalku, mungkin sejenak kau bertanya dalam hati, siapa aku. Aku pengagummu.

Namamu Hana Afifah. Aku tahu, begitulah seorang pemuja akan mencari tahu bagaimana caranya. Aku hanya menunggu kesempatan, momen dimana kita berkenalan dan saling tahu. Dan semoga Tuhan mendengar doaku. Karena cinta tak perlu dipaksa, biarkan dia berjalan dengan sendirinya. Aku hanya bisa menahan, mungkin bukan sekarang, atau juga mungkin saja tidak untuk kedepannya. Bisa saja kita dipertemukan kemudian bersatu. Dan bisa juga kita dipertemukan lalu pergi seperti angin lalu. Atau bahkan kita takkan dipertemukan dan tak bisa bersatu. Bayangan memberi gambaran. Dari 3 kemungkinan jalan yang ditentukan, hanya satu bahagia, dan dua lagi berujung pada kesedihan.

Kemudian waktu menjawab. Tuhan mendengar doaku. Ketika itu aku dipilih untuk latihan persiapan olimpiade kimia SMA tingkat kota. Aku mewakili kelas 2 dan kau mewakili. Begitu tahu, aku sangat senang. Ternyata kita memiliki ketertarikan yang sama. Kimia. Semoga dengan itu mendekatkan kita.

Ini namanya gairah. Memacu aku untuk tidak bolos sekalipun dalam pelatihan. Datang setepat waktu mungkin, setidaknya bisa duduk disampingmu. Tidak tidak, duduk di belakangmu atau duduk dimana aku masih bisa memandangmu walau sedikit, itu sudah cukup. Ketika guru memanggil namaku dalam daftar absen, semoga kau tahu, semoga kau hafal namaku dan pada saatnya, namaku terukir indah di hatimu.

Otakku berpikir cepat, menyerap semua apa yang aku pelajari. Dengan begitu, ketika aku mengerti, aku bisa menunjukkanmu dan mengajarimu. Dan kemudian kau kagum denganku, begitu juga aku kagum denganmu terlebih dahulu. Semoga dengan pelatihan ini, kita mengerti kimia, dan juga diantara kita berdua mendapatkan chemistry. Cinta seperti katalase, yang memacuku untuk berpikir dua hal. Kimia dan kamu.

Tanyalah padaku, tanya. Tanya apa yang tak kau mengerti. Biarkan aku mengajarimu sesuatu. Sesuatu yang aku mengerti dan sesuatu yang mendekatkan kita. Menjadikan ini sebagai batu loncatan untuk mengetahui siapa kamu, dan apa saja tentangmu. Seperti aku mencari jawaban soal kimia diantara banyaknya rumus yang ada. Mulailah dari yang terkecil. Atom, molekul, dan senyawa. Begitu juga dengan nama, kegemaran, dan perasaan. Seperti halnya unsur, yang melambangkan individu. Aku berharap ikatan kita seperti ikatan kovalen. Saling memiliki. Tidak dengan ikatan ion. Yang sepihak memberi. Seperti aku saat ini, mengagumimu. Kemudian aku kosong.

Kesempatan kembali datang. Saat diskusi kelompok, kita berdua satu. Iya satu kelompok. Kita terlihat canggung masing-masing. Memulai dengan perkenalan. Aku memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Hai, Hana ya. Aku Enggri. Sudah tahu dari absen sih. Hehehe.”

“Iya. Salam kenal ya.” Balas dia kemudian senyum.

Perkenalan singkat ini takkan aku lupakan. Akhirnya aku melihat senyum dengan dekat, dan senyummu itu untukku. Betapa bahagianya, akhirnya mimpi itu jadi nyata!

Lalu kami menjalani diskusi. Saling bertukar pikiran. Waktu sepertinya hanya milik kami berdua. Bagiku, cinta itu tak membuat dunia serasa milik berdua. Dunia ini milik orang banyak. Ketika jatuh cinta, kita punya dunia tersendiri untuk bercengkrama dan bahagia. Mataku tidak bosan memandangimu. Dengan begini, jatuh cintaku semakin dalam. Aku tak perduli, apakah kamu punya rasa yang sama atau tidak. Saat ini aku hanya bisa menikmati.

Cinta itu candu. Membuat pelakunya berkhayal tak kenal waktu. Membayangkan dan memikirkan sesorang. Entah peduli dia juga cinta atau tidak. Hati tak mengenal itu. Yang ia rasa hanyalah berbunga-bunga, dan kemungkinan baik dan buruk akan selalu ada. Jadi, berharaplah yang terbaik.

Sepertinya saya harus berterimakasih kepada guru pembimbing, yang menetapkan kalau pelatihan selanjutnya akan dalam bentuk kelompok tersebut. Tentunya, aku bersama Hana Afifah kembali bersama, untuk jangka waktu tertentu.

Kita semakin lama semakin dekat. Rasa maluku perlahan memudar. Aku sudah mulai terbiasa denganmu, terbiasa disamping. Aku tak canggung lagi menyapamu walau sekedar berpapasan, ataupun berbagi cerita kehidupan. Kita dekat, dan aku mau lebih dari saat ini. Aku tak mau kita akrab hanya karena ini. Aku ingin kita mengenal lebih di luar. Ya setidaknya, bertukar kabar ketika kita tak bertemu.

“Eh, boleh minta nomor handphone-nya? Ya bisa saja ada sesuatu yang kita perlu entah itu kamu atau aku.” tanyaku.

“Boleh. Ini nomorku. 081xxxxxxxx. Coba miscall, biar aku simpan juga nomormu.”

“Baiklah.”

Lalu aku menyimpan nomormu, dan akan ku buat spesial di handphone-ku. Semoga kamu juga begitu.

Semenjak itu, kita mulai berbalas pesan singkat, entah itu menanyakan kabar, atau sekedar basa-basi menceritakan keseharian di sekolah. Ya aku mulai memberi perhatian denganmu. Kamu juga begitu. Dan itu aku harap kamu tulis. Semoga pesan singkatku mengisi harimu, bukan dengan terpaksa.

Aku merasa semakin dekat denganmu. Aku merasakan kau juga membuka untukku. Semakin kita dekat dengan seseorang, semakin kita khawatir dengan seseorang itu. Sepanjang hari aku terus memikirkanmu. Kamu sedang apa dan bagaimana. Mendoakanmu baik-baik saja. Kepada angin, sampaikan salamku padanya, bahwa aku merindukannya.

Mendekati hari perlombaan, kita semakin banyak berdiskusi, tentunya semakin banyak waktu bersama. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, hanya berdua, belajar bersama.

“Hana, aku mau mengatakan sesuatu. Aku mau mengajakmu ke Wonder Café besok. Belajar, soalnya perhelatan olimpiadenya tinggal menghitung hari.” tanyaku.

“Tumben aku diajak. Ada gerangan apa, bang?” ledek dia dengan tertawa kecil.

“Ya hitung-hitung kencanlah.” Balasku mulai bercanda dengan dia.

“Hmmm… cerdik juga ya. Hahahaha. Baiklah. Besok ya. Kabari aja lagi via telpon atau pesan singkat.”

“Siap, Bos!”

Kalau hati bisa meledak, mungkin saat itu isi dadaku bercucuran keluar karena tidak sanggupnya menahan rasa senang. Bagaimana tidak, apa yang kuimpikan selama ini, satu per satu mulai terwujud. Ya, aku kembali dekat dengannya. Kali ini berdua, di café, dengan suasana berbeda tentunya.

Di café itu, kita duduk berhadapan, menatap bola mata masing-masing. Disini kita akan lebih mendengarkan, lebih luas dalam bercerita. Kemudian kita mengerjakan soal-soal kimia. Hangatnya saat itu antara aku dengan dia mengalahkan hangatnya kopi. Tapi aku harap hangat kami berdua tak seperti kopi. Hangat diawal, dan perlahan memudar. Aku harap kita bisa seperti ini lagi. Didekatmu itu canduku. Aku terjebak dalam kenyamanan bersamamu.

Dan hari dimulainya olimpiade pun tiba. Aku gugup, begitu juga dengan dia. Ini pengalaman pertamaku dalam mengikuti olimpiade. Aku berharap untuk hasilnya tidak mengecewakan dengan persiapan menjelang olimpiade. Dan tentunya, aku ingin berjuang keras dan sebaik-baiknya, terlebih karena ingin membuat dia bangga. Aku pun sendiri gugup, melihat banyak peserta dari sekolah lain. Tapi aku tak mau menampakkan rasa gugup, dan aku terus menyemangati Hana. Sama seperti aku, ini pertama kalinya dia mengikuti olimpiade. Aku terus memotivasinya. Aku melakukan semampu yang aku bisa, agar dia tahu kalau aku aka nada untuknya.

Detik-detik mulainya olimpiade, kami saling mendoakan. Kami berbeda ruangan. Sebelum menuju ruangan masing-masing,  kami bro fist terlebih dahulu. Ya, mungkin dengan ini, bagian dari motivasi diri.

Dan akhirnya, olimpiade telah selesai. Aku keluar ruangan, lalu menuju ruangan Hana. Aku menunggunya keluar. Ketika dia keluar, aku melihat raut mukanya yang sedikit kecewa. Aku bertanya,

“Kenapa sedih gitu? Apakah soalnya susah?”

“Iya. Ada yang salah. Sedikit ceroboh.” Jawab dia dengan nada yang lemas.

“Sudah. Jangan dipikirin lagi. Berdoa aja supaya dapat hasil yang baik. Lain kali harus lebih teliti. Yang terpenting, percaya sama kemampuan sendiri. Aku yakin kamu pasti bisa.”

Dia hanya membalas dengan senyuman.

“Memikirkan soal tadi, membuat aku lapar. Ayuk ke kantin.” ajakku.

“Ayuk.”

Raut kecewa di mukanya sudah hilang.

Bagaimanapun juga, aku akan terus menghibur dan menyemangatimu. Aku tak mau kau larut dalam kesedihan. Hanya ini yang bisa aku tunjukkan, kalau aku mencintai kamu.

Tidak terasa berjalannya waktu, dulunya aku yang hanya sekedar mengagumimu dari jauh, sekarang aku dekat denganmu. Kau adalah orang spesial saat ini. Kau pengisi hariku. Kau pemakan suntukku, kau pelawak dari segala kesedihanku. Semoga aku juga begitu denganmu. Kita semakin mesra, dan aku belum bisa menyatakan perasaan kepadanya. Aku belum siapa menerima segala kemungkinan yang ada. Bisa saja aku hanya berlebih rasa percaya diri kalau kamu cinta aku, dan ternyata tidak sama sekali.

Kembali memendam perasaan, belum ada keberanian untuk mengungkapkan. Beginilah akibatnya, semakin menyayangi seseorang, semakin takut kita akan kehilangan seseorang tersebut. Andaikan menyatakan perasaan itu semudah menanyakan apa kabarmu. Andaikan menyatakan perasaan tak penuh beban seperti kamu memberikan senyuman.

Tuhan berkata lain. Aku mendapatkan kabar kalau dia baru saja berpacaran dengan orang lain. Simpang siur kabar yang aku dengar adalah dia pacaran dengan abang dari sahabatnya. Hati serasa runtuh. Pikirang campur aduk. Aku yakin ini mimpi. Sesorang tolong pukul. Kemudian aku menjernihkan pikiran. Ini nyata. Ini beneran adanya. Air mata jatuh. Tidak, aku tidak menangis. Aku hanya sedih, aku berlinang air mata tanpa suara.

Kau menelponku, memberi ‘kata perpisahan’. Kau mengucapkan terimakasih kepadaku, atas bimbingan dan perhatian selama ini.

“Terima kasih telah membimbingku dan memberi perhatian. Aku nyaman berada di dekatmu.” Katanya dengan nada lirih.

“Tidak, aku yang seharusnya berterima kasih karena hadirmu telah memberi warna pada hidupku. Kenapa harus seperti ini? Kita kan bisa berteman seperti biasa.”

“Tidak. Jangan hubungi aku lagi, aku mohon. Aku telah mempunya seorang yang bakal memberiku perhatian dan kasih. Jangan buang-buang kasih sayangmu. Aku yakin kamu bakal mendapatkan sosok yang baik, lebih dari aku.”

Aku diam. Sejenak percakapan di telepon itu hening. Aku belum bisa menerima. Aku dan dia saling memikirkan jawaban selanjutnya dalam keheningan.

“Baiklah, untuk apa juga aku memaksa. Karena aku bukan siapa-siapa. Aku cuma ingin mau menyampaikan apa yang selama ini belum mampu aku utarakan. Hana, aku mencintaimu.”

“Aku meneleponmu, memberi kabar seperti ini agar kamu tahu dan tidak terlalu sakit menerima aku seperti ini. Aku punya alasan sendiri kenapa aku bisa seperti ini. Dan itu tak perlu kamu tahu. Dan aku juga tahu perasaanmu. Karena aku juga mencintaimu. Selamat malam.”

Kemudian Hana menutup telepon itu. Aku pasrah, inilah kenyataan yang harus aku terima. Tuhan punya rencana tersendiri untuk aku jalani. Tidak dengan dia, mungkin dengan yang lain yang lebih pantas dan lebih baik, atau bisa saja aku akan bersama Hana kembali kedepannya, kembali dipertemukan lagi. Bisa saja.

Satu hal yang aku akhirnya ketahui dari percakapan di telepon itu adalah, Hana juga mencintai aku. Inilah cinta pertamaku. Tidak berakhir bagia memang, namun itu punya tempat tersendiri di hati. Cinta pertama memang beda rasanya dibanding cinta kedua, ketiga dan seterusnya. Cinta pertama akan selalu diingat dan dikenang entah itu, sedih, bahagia atau absurd.

Tak lama kejadian itu, kami dipertemukan lagi pada momen yang berbeda. Kali ini dalam acara pengumuman olimpiade. Saat pengumuman pemenang, aku mendapat juara dua dan Hana juara tiga. Aku dan dia menuju panggung untuk mengambil trofi. Dan pada saat foto bersama para juara, aku disampingnya. Diam, hening tanpa kata. Menatap ke arah kamera. Tidak apa-apa. Kami tidak seperti yang dulu, kami sudah berbeda. Yang aku tahu, aku pernah jatuh cinta dengannya. Begitu juga dengan dia yang pernah jatuh cinta denganku. Tidak, aku bukan pernah jatuh cinta dengannya, tapi aku masih cinta dengan dia. Apakah dia masih?
Lanjut baca? Mari~ »

Monday, July 29, 2013

Kita Pernah Bercerita

1 comments
Kita pernah bercerita. Menatap mata, melampiaskan rindu setelah sekian lama dipendam. Kita dijauhkan oleh jarak, walau itu sementara. Keteguhan kita pada komitmen yang telah diucap, yang membuat kita tegar menjalani semua. Kita membahas suka dan duka, dan inilah yang mendekatkan kita. Membuat kita saling mengerti dan menghargai.

Kita punya kehidupan yang bisa dikatakan berbeda. Dengan karena itulah, terpaksa, kita berpisah pada rentang waktu yang ada. Aku melihat cermin, membayangkan kita berdua melihat senja. Tersadar, bayangan itu aku sendiri, dan aku berkhayal aku tak sabar untuk bertemu kamu lagi. Dan aku harap pada jauhku, kau jauh disana memiliki perasaan apa yang aku rasa. Yaitu merindukanku juga.

Yang kita tunggu itu sama. di sebuah kafe, ditemani secangkir kopi hangat, bola mata kita bertemu. Dan yang aku ingin lihat, senyum indah yang tersungging di wajahmu. Menggenggam erat tanganmu dan mengatakan “Aku tak pernah lupa pada janji. Dan aku disini, hanya untukmu.”  melepas beban rindu yang ada dengan membelai rambutmu, dengan itu semua penatku lenyap dan memberi kenyamanan yang hangat padamu.

Dan pada kepergian yang selanjutnya, kamu senantiasa menungguku, menanti kehadiranku. Begitu juga dengan aku.

Kita pernah bercerita. Dan akan terus bercerita.

Lanjut baca? Mari~ »

Sunday, July 28, 2013

Inilah Aku, Pengagummu.

0 comments


Tak ada yang salah ketika aku mengatakan “ aku mengagumimu”. Itu hanya permulaan dari percikan-percikan perasaan yang mulai tumbuh. Kau sudah cukup sempurna, ketika aku melihatmu, yang aku rasa ada dua: adem di mata dan nyaman di hati. Berterimakasihlah engkau kepada Tuhan. Karena Dia telah menyihir mataku untuk melihat dan mengagumi sebagian kecil ciptaan-Nya yang ia hadapkan padaku saat ini.

Dan aku bukanlah seorang peramal, terlalu jauh membayangkan apakah kita pasangan yang ditakdirkan. Terlalu cepat mengandai seperti itu. Terlebih penting dari itu, bagaimana aku bisa menjadi bagian penting dari hidupmu. Ah hanya kebiasaanku, yang terlalu menuntut dan banyak harap, padahal belum tentu hati ini terbalaskan juga.

Rentang waktu tertentu adalah masa saat kau mulai membiasakan kehadiranku. Disana juga keberadaanku akan seperti penting olehmu atau hanya penganggu saja. Sebuah perawalan akan buruk jika terlalu berekspektasi tinggi. Demikianpun kata hati, yang belum bisa ditebak walau beberapa kali kita mencoba untuk mengerti.

Karena pada nantinya, akan ada waktu untuk menyatakan perasaan. Setelah sekian panjang, aku menunjukkan dan berkorban, mempersembahkan hadirku yang akan berarti di setiap penggal harimu, dan seraya berkata,

“Hai wanita, biarkan aku singgah dan menetap sementara di hatimu. Dan tugasmu menilai aku, apakah aku bisa menjadi pendampingmu kelaknya.”

Yang aku bayangkan adalah ketika kau menjawabnya, penuh malu dengan muka memerah, serta senyum tipis yang teruntai di bibir tipismu.

“Sekian waktu kau menunjukkan aku dengan kepedulianmu. Sekarang waktuku memperdulikan ungkapan perasaanmu. Aku tak mudah untuk mempercayai. Dari sekian janji, maukah kau memberikan bukti, bahwa aku adalah wanita yang kau cari?”

aku bisa menjawabnya,

“Demi kau, bahwa apa yang aku lakukan itu tulus dari hati. Sadar akan batasan diriku, aku tak pernah mengharapkan lebih dari ini. Sekedar mengungkapkan perasaan, dan itu adalah kosakata yang aku tuangkan dari sekian banyak rasa sayang aku tunjukkan. Dan kenapa aku tidak terus mengatakan janji padamu, sedangkan dalam hatiku sendiri aku bisa menjagamu dan memberimu bukti? Karena apa yang terlihat dan apa yang tidak terlihat, yang bisa menilainya adalah Tuhan.”

Dengan gelitik tawanya seraya berkata,

“Aku melihatmu berbeda. Menunjukkan keseriusan tanpa ada hal yang memaksa. Keikhlasanmu adalah kerelaanmu ketika apa yang kau bayangkan tak seusai jalan pikiran yang aku putuskan. Menerima segala kemungkinan yang terjadi. Terlebih kemungkinan itu adalah aku tak mempunyai rasa padamu. Tapi yakinlah, dari sekian waktu, kita bersama, dan kau tanpa angkuh mencoba mengambil hati ini. Ya itu yang aku suka, kau punya cara tersendiri untuk membuat wanitamu bahagia. Tolong jaga aku, pegang erat awal pertemuan kita dahulu, karena kita tak akan tahu, kapan perpisahan itu datang atau kita akan tetap bersama seterusnya.”

Aku tertegun, aku tak punya banyak kata untuk diungkapkan lagi.

“Baiklah, biar aku pegang janji ini. Dan silahkan kau melihat bagaimana perasaanku bagaimana bisa membuatmu kagum dan tak mau kehilangan.”

“Boleh. Aku menunggu.” Tantangnya dengan senyuman hangat padaku.

Inilah khayalku. Cuplikan perjalanan yang kedepannya aku alami. Dan aku tak akan mudah surut semangat dan mencoba sebisa. Karena aku adalah pengagummu, berhasrat kita berdua akan menjadi “saling menyayangi”.
Lanjut baca? Mari~ »

Tuesday, July 23, 2013

Bisikan Yang Mengingatkan

0 comments



Ia dan sendirinya adalah bagian yang tak terpisahkan, ketika kau tanpa kejelasan meninggalkan ia mengantung harapan. Perpisahan itu membunuh. Dulu kalian saling mencinta dan merajut asa bersama, sekarang memiliki dunia yang dijalani dengan sendiri. Ia belum bisa mengikhlaskan, dia masih menggantung pada harap. Sulitnya memutar waktu yang ia rasakan ketika menghapus kenangan. Jejak-jejak kecil kehadiranmu masih menggema dalam pikirnya. Namamu terus menggaung, kelopak matanya tak sanggup membendung air mata.

Dia terlalu ringkih dalam bermimpi. Berpikirlah ia sebelum mengikhlaskan kepergianmu. Apakah dengan ini menjadi sebagian cerita dalam hidupnya yang sulit untuk dilupakan. Ia yang pernah denganmu merajut asa, dalam rentang waktu merelakan, ia akan terus menyebut namamu dalam rangkai doanya agar kau mendapat bahagia yang kau inginkan, bukan bersamanya.

Ia bukan wanita tegar, dalam tegaknya, ia mati. Yang dipikiran ia hanya potongan kecil kenangan bersamamu. Ia ingin sekali bertanya, apakah disetiap penggal harimu ada ia yang kau rindu?

Jika bahagiamu didapat tanpa adanya ia, jangan pernah merugi ketika kau jenuh pada hidupmu, mendapati ia yang bahagia dalam sendirinya. Sendirinya yang kosong, disanalah mimpinya bersegmentasi. Hampanya dalam kosong yang menghangatkan kulitnya. Dia yang menangis, dia yang tertawa hanya terbiasa dalam kaca di ruang kosongnya. Bersyukurlah kamu pernah memilikinya. Yang pernah ia rela mengorbankan diri, membantai waktu dalam kesedihan dan terus menyanjung namamu dierat tangan dan di hamparan pipi yang basah karena terus merindu.

Ia belum memilih jalannya. Ia terlalu kikuk menilai dalam setiap kemungkinan. Karena ia hanya tak mau kecewa dan mati dalam harapan. Bahkan ia tak bisa apa-apa. Sejenak ingin terlelap dari riuh penantian. Pasrahnya, ia selalu terjaga ketika rindu menghampiri. Hadirmu yang ia tunggu. Ia masih mengingat janjimu. Yang dulu kau katakan ketika ia penuh harap, bahwa jika kebahagianmu adalah secarik kertas. Maka ada namanya yang tertulis di atasnya.

Ia hanya membingkai diri. Hidupnya masih panjang. Garis lurus mengusut. Sesaat ia tiba di persimpangan, disanalah ia tahu bahwa hidup penuh pilihan. Dalam haru, terkahir katanya adalah “Lengkapilah hidupmu dengan apa-siapa yang bagimu sempurna, dalam kurangku memenuhi, kepadamu hanya doaku yang menyertai.”

Kepada angin, bisikan ini mengingatkanku kembali.
Lanjut baca? Mari~ »

Saturday, June 8, 2013

Seperti Kisah Kemarin

0 comments



Ketika kita terlelap dalam buaian asmara cinta, masih ada yang mengganjal hati apakah kita akan tetap seperti ini pada biasanya. Bukannya saling menjaga, tapi perlahan kau mulai menumbuhkan jenuh, menyangkutkan pada ranting pikiran. Bercabang banyak dan patah. Lalu kau tegak diam tak bersuara. Ada yang lebih penting dari sekedar mencari bahagia, yaitu mencari makna dalam kesedihan. Ada hal yang lebih penting dari sekedar kebersamaan, yaitu rasa yang dimiliki masing-masing yang takut akan kehilangan.  Kebersamaan tak melulu tentang berdua dan bercumbu mesra. Ada saatnya kebersamaan diuji ketika kita terpisah oleh beribu mil jaraknya.   

Dulu kita saling berbagi cerita. Kita saling menguatkan perasaan, mendekat diri pada keberadaan. Tiada yang mungkin hadir tanpa kesetian, tiada yang berjalan melangsungkan hubungan tanpa ada genggaman. Tapi satu, aku tak terlalu suka mengurung perasaan dengan janji bahkan membuai kata dalam ungkapan bibir. Karena bagiku, memaksa berjanji karena takut kehilangan itu tak ada gunanya. Padahal banyak diluar sana tetap setia dalam penantian sekalipun ia telah lama ditinggalkan. Meski kita saling mempunyai mimpi bahagia bersama, berdua, itu sebuah fatamorga yang akan menyakitkan kita ketika kita tak lagi bersama, berdua. 

Kabut. Kau menyamarkan bayangan kepergian. Melenyapkan semua asa yang telah dikonstruksi pikiran. Hati yang teguh perlahan mulai meluluh. Tak satupun jejak yang kau sisipkan disetiap langkah perpisahan. Tak tertanam sedikitpun akan rasa kebencian di pikiranku, bagaimanapun juga kau dulu pernah mengisi hari-hariku. Ya seperti kataku, aku tak mau terlalu berjanji, bukannya aku tak percaya pada perasaan, seperti inilah terjadi, banyak yang menjalar menundukkan kuasa kita dalam mempertahankan hubungan. Setidaknya kepergianmu menjadi bukti, bahwa di setiap janji, ada beban tanggung jawab yang tersisipi. Aku mulai mengerti, menjalani hari kedepanku tanpa ragu. Menyongsong fajar yang menghangatkan tubuh, menyaksikan petang yang mulai meredup. senja yang tenggelam hanya secuil gambaran yang belum bisa mempresentasikan tentang hari esok. Sedikit kuasaku menaruh harapan diujungnya.

Jadilah diri sendiri, karena dalam setiap pengertian dan pengorbanan, perlu mengetahui seluk beluk kepribadian. Tak hanya perasaan, terkadang kecamuk pikiran yang menghambat ide, tak memandang situasi dalam mebolak-balikkan memori. Tak pelak kenangan tanpa mengingat waktu dalam kedatangannya. Keberadaan yang di dalam diri menguasai, akan sia sia dan hanya berujung pada kesepian. Dimana dulu kita pernah bersama, seperti kisah kemarin.
Lanjut baca? Mari~ »

Tuesday, May 28, 2013

Wanita-ku

0 comments

Kau berbeda dari wanita lain. Ada hal yang tersembunyi yang mampu aku lihat dalam dirimu. Sebuah keasyikan bercengkrama tanpa habisnya. Banyak cerita yang kita buat, banyak canda tawa yang kita ujar, dan banyak ungkapan perasaan yang tersisip dalam percakapan. Tapi wanita itu semu bagiku. Mungkin sekarang ini kau ada untukku, besok mungkin saja tidak. Wanita itu bagai belut, meski telah kau kenali segala lekuk liku tubuhnya, sukmanya selalu luput dari genggaman.

Dulu kau ada. Kau selalu menanyakan waktu, membicarakan kemungkinan bertemu. Setidaknya ada yang kita semai setelah melepas rindu dalam aktivitas penuh se. Kau mempertanyakan hari pada cermin, kenapa ada penggantian siang malam tanpa aku dengan kebersamaan. Kenapa ada selasa kalau esok akan datang rabu. Kenapa kau merasa jauh pada jarak yang disana, kalau ada yang mendekatkan diri yaitu rindu. Kau gambaran wanita diatas lembaran sketsaku. Menjadikan aku pelukis yang hanya bermodalkan perasaan. Aku hanya sebuah gelas kosong dengan kau sebagi air penyejuk datang mengisi kekosongan itu. Aku ingin menjadi pena. Membuat tulisan di setiap lembarnya. Tak peduli apa yang salah dalam setiap kata-kata yang menyusunnya.

Kau terlalu menggelora saat kita bersama. Terlalu banyak yang diucapkan dan terlalu banyak yang dirasa. Kau tak kuat hanya sekedar meraba dan menghayalkan, kau ingin bertemu, kau ingin berdua, dan kau ingin tetap bersama. Aku sebuah pelangi, berwarna setelah kau hujani dengan cinta. Tapi rindu terlalu besar diantara kita. Selalu menanyakan aku pada setiap kesempatannya. Kenapa menunggu petang yang akan berganti malam. Sabar menanti dan tak harus bersedih, karena esok akan kembali.

Waktu terus berjalan dan menjadikanmu diri yang dingin. Tak sehangat dulu, saat kita berapi-api dan menghamburkan gelombang aura merah ceria. Kau sekarang abu-abu. Dulu aku ingat ketika kamu sedang tidak percaya, menanyakan apakah kita akan tetap bersama. Aku berjanji. Aku denganmu, bibir ini jujur dalam berkata cinta dan mengutarakan rasa. Tapi apa, kau perlahan melepas genggaman. Kau berjalan dengan sepatu putih ke sebuah titik hitam yang entah berapa jauh jaraknya. Kau memberikan kelam saat meninggalkan. Kau membiarkan air mata ini berlinang dan mengering disudut mata. Kau tak membolehkan aku menangis karena kelingking kita masih bertatut erat. Kau hanya berbisik, “biarkan aku bebas. Aku hanya ingin bernostalgia pada saat aku sendiri. Dulu. Saat aku belum mengenalmu. Aku hanya ingin tahu batas jenuhku, saat itulah aku mengerti kau adalah yang aku cari untuk penghanyut bosanku dan penjaga dalam kantukku”. Kemudian kau pergi.

Wanita, kau telah jauh meninggalkan. Hawa keberadaan hilang kelam dalam bayang-bayang penantian. Aku hanya sendiri, dihembus angin dan hanyut dalam aliran sehingga aku tenggelam dalam memikirkan sosokmu di ruang kosong yang kusebut kenangan. 
Lanjut baca? Mari~ »

Wednesday, May 22, 2013

4-2-4-2-1 : AKu Sayang Kamu

0 comments


Ketika waktu mempertemukan. Ketika perjumpaan berlanjut ke hal yang tak direncanakan. Bahkan berpikir sesuatu yang kecilpun belum ada sebelumnya. Hanya sebatas bertemu, kenalan dan berteman. Di café itu adalah tempat yang menjadi cerita awal dari setiap deretan bahagia yang akan dirasakan. Kau menjabat tanganku, terasa halus telapak tanganmu, dari bibir mungil merahmu dengan halus kau menyebut namamu. Ya, namamu Fransiska. Senyummu dan ucapanmu bertanya balik siapa namaku. Dengan gagah bercanda aku menjawab, “I’m your man”.

Kita mulai berbicara tentang kesibukan kita masing-masing. Tapi memandang matamu pun aku grogi. Aku sibuk membagi penglihatanku antara laptop dan matamu. Mata yang indah. Seandainya aku bisa menatap lebih lama berdua di tepi pantai yang pasirnya warna merah muda. Alangkah indahnya hidup ini, dan aku seperti mempunyai bidadari . seperti surga? Tidak. Bahkan menghayal seperti surga itu aku tak mampu. Menikmati senja bersamamu dan melalui malam berdua denganmu adalah salah satu keindahan surga yang aku dapatkan di dunia.

Apa yang kutunggu menjelang larut malam adalah mendengarmu cerita dengan perantara telepon genggam. Bercerita sampai kau lelah dan menguap akan rasa kantuk yang didera. Kau menutup percakapan kita dengan ucapat “selamat tidur”, “have a nice dream”, “Jangan tidur larut malam”. Yap, seketika kau menutup telepon, aku langsung menutup mata menyambut hari baru bersamamu.

Kita mengarungi satu bulan dalam perkenalan. Dua bulan dalam pendekatan. 3 bulan seterusnya bahkan kita tidak tahu kalau kita adalah pasangan yang ditakdirkan Tuhan. Aku merasa “wah” dalam kerjaku. Aku sibuk dengan kegiatanku sebagai penulis, kau sibuk dengan kerjaan kantormu sebagai sekretaris. Tapi kita saling ingin bertemu, kita mampu mengatur waktu setidaknya melepas penat dan rindu.  Tapi ada satu hal yang meracau pikiranku yaitu apakah kau dekat hanya tidak padaku seorang. Itu menganggu. Aku tak mau didahuli dan tak rela melepasmu. Bagaimana dan kapan aku bisa menyatakan perasaan. Aku berharap kamu tahu apa yang aku pikirkan dan perasaan.

Perasaan ini mendesakku. Rasa takut kehilanganmu mendorongku maju. Dengan gugup dan malu aku menyatakan cinta di cafe saat kita pertama kali bertemu. Aku berkata,

“Ketika 4 mata saling bertemu, saat itulah 2 hati saling membuat janji agar 4 kaki akan melangkah bersama dengan 2 tangan menggenggam menjadi 1 impian. Biarkan aku menjadi kekasihmu, agar kamu tahu seperti apa rasa sayang dan tidak mau kehilangan itu?”

Kamu terdiam untuk sementara waktu. Mungkin ini sebuah hal yang tak kamu pikir sebelumnya. Kamu diam. Aku dingin, tubuhku dingin, jantung ini terus memacu, urat nadiku mengeras. Pikiranku juga mengeras, menebak apa yang kamu pikirkan setelah aku mengucapkan kalimat yang menurutku gila itu. Dan desiran angin AC cafe itu membuat rambutmu terbang dan mengangguk iya. Iya. Kamu menerima perasaanku. Entah apa harus aku lakukan. Lompat lompat salto di cafe itu, belum cukup mengungkapkan rasa gembira itu. Mau teriak pun, takut ditendang buang sama pelayan cafe itu. Cuma satu kata yang bisa dirangkai bibir ini “Terima kasih cinta.”

Andai kau tahu apa isi pikiranku saat ini. Mungkin kamu akan melebur bersama gejolak asmara ini. Kamu itu duniaku. Ketika kamu tak hadir didepanku. Aku tak bisa melihat seperti apa dunia. Oh beginilah menjadi orang buta. Buta dikarenakan asmara.
Lanjut baca? Mari~ »

Tuesday, May 21, 2013

Setia Dalam Bait Penantian

0 comments

Ada yang kutunggu-tunggu setiap hari. Ada yang kurindu dalam menyongsong fajar pagi. Ada yang ingin kubelai rambutnya ketika tidur dan mulai bermimpi. Ada dua hal yang kutunggu setiap hari. Pertama, Sapaan “Selamat pagi” ketika kamu terjaga dari mimpi. Kedua kalimat “Have a nice dream” ketika aku terlelap pisah meninggalkan malam.


Dua bola mata ini menatap hampa keluar jendela. Melihat secercah cahaya matahari membayangkan senyum manis kamu yang aku cari. Dalam hariku, aku mencoba tegar dalam menunggu. Dalam menunggu, aku sibuk mengkhayal kehadiranmu. Jangan biarkan aku mati sendiri dalam menanti, jauh harapku disini, aku ingin menjabat tanganmu melepas sepenggal untaian rindu. Menyapa “lama tak berjumpa” dari bibir kering yang butuh cengkerama berdua. Kapan kita bisa bertemu, saling canda tawa berdua, dan melepas haru kesedihan.  Tidak. Hanya aku sedih. Bahkan kamu sedikitpun tak ingin tahu bagaimana aku. 



Aku hanya berdiri dalam harap, bertahan dari goncangan kegelisahan, hinaan dalam penantian, penantian mustahil yang terlalu aku impikan. Biarkan aku mati dalam menunggu. Biarkan aku hidup dalam terpaan abu rindu. Mengeringkan kulit tubuh, tanpa harus kamu tahu. Tidak terlalu banyaklah pintaku. Biarkan aku diingat sebagai bait dari setiap penggalan kenanganmu. Dan aku disini, menjadikanmu kalimat dari setiap untaian kataku dalam doa. Mendoakanmu bahagia dan mempunyai hidup tanpa harus tahu arti sakit dalam merindu. Memohon kepada Tuhan, berikan yang terbaik sepanjang hidupmu. Aku bahagia ketika kamu bahagia, dan aku akan leih bahagia, ketika itu terjadi saat kita bersama.


Kamu sibuk membentuk hidup yang kamu inginkan ditemani oleh dia. Sedangkan aku hanya pengangguran yang sibuk merapikan deretan rindu yang mulai kusut. Tiada mentari dan rembulan yang mngerti, begitu juga air mata yang membasahi pipi. Demikian juga surat cinta yang kutulis ini, biarlah terbang tak tahu arah, jatuh dan mengering menyatu dengan tanah. Gemburkanlah asaku, tunaskanlah harapan baruku dan pucukkanlah impian kesuksesanku. Terimakasih untukmu, jadilah orang yang berarti karena dalam rindu dan penantian, aku tak bosan menunggu.



Lanjut baca? Mari~ »

Sunday, January 6, 2013

Cerita Cinta Kita: Benih Cinta

0 comments


Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga. Aduh begitulah kata para pujangga~

Cinta itu adalah bibit. Petaninya adalah kita sendiri. Kita yang menyemai bibit itu di ladang hati seseorang. Cinta itu akan membawa hasil positif apabila yang kita semai adalah bibit unggul, dalam artian yaitu cinta yang tulus. Cinta yang tulus bukanlah cinta yang dilandaskan oleh kepura-puraan ataupun cinta yang hanya sekedar pelarian dan nafsu belaka. Ibaratnya apabila yang kita tanam padi, maka yang tumbuh padi juga. Tapi apabila yang kita tanam itu ilalang, jangan pernah berharap yang tumbuh itu adalah padi. Sama seperti cinta, jika yang kita beri atau tanam berupa perhatian dan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih, maka nantinya yang didapat adalah cinta yang tulus dari seseorang. Ketika lahan tempat kamu menyemai kering dan tandus, kamu tidak boleh berputus asa. Siramilah terus, Sesungguhnya tanah yang gersang akan menjadi tanah yang basah gembur dan subur.

Ketika benih yang telah tumbuh menjadi tunas, saat-saat itulah awal hubungan dimulai. Memadu kasih, menjalin hubungan. Dan satu hal, proses ini masih berlanjut. Kamu harus merawat tunas itu untuk terus tumbuh. Kau perlu memberinya pupuk dan menyiraminya. Itulah proses yang terjadi ketika kita berhubungan dengan seseorang. Kita perlu merawat dan menjaga hubungan tersebut bagaimanapun caranya. Karena dari awal membentuk suatu hubungan, kita telah melalui berbagai proses dan melakukan berbagai cara untuk menciptakannya.

Ketika tunas berkembang dan tumbuh menjadi tanaman dewasa, disinilah klimaksnya. Kamu harus merawatnya agar tidak terserang hama yang mengganggu perkembangan tumbuhan itu. Sama seperti hubungan, ketika hubungan telah berjalan lama maka akan banyak masalah datang baik dari perselisihan internal ataupun orang ketiga yang datang menggoda. Tugasmu adalah mengusir hama tersebut dengan memberikan pestisida. Ketika hubungan itu telah tahan hama, sudah tiba waktu tanaman itu berbunga dan berbuah. Dimana saat-saat inilah yang ditunggu akhirnya datang juga. Kamu menerima hasil dari hubungan yang telah kamu bentuk dan tanamkan hingga akhirnya yang diimpikan kesampaian juga yaitu beruba hubungan yang lebih serius dan berlanjut ke jenjang berikutnya yaitu pernikahan.

Ketika pernikahan, kamu akan melihat berbagai senyuman orang-orang yang kagum pada buah dari tanaman yang telah kamu pelihara. Tak hanya kamu, bahkan orang terdekat kamu mencicipi buahmu dan mereka menjabat tanganmu kemudian mereka mengucapkan selamat.Kerja kerasmu terbayar sudah.

Proses belumlah berakhir disini. Ketika tanaman telah berbuah, kamu tetap menjaga dan merawat agar terus berbunga dan berbuah. Sama seperti seperti pernikahan, hubungan terus berjalan dan terus dijaga hingga kamu dan seseorang yang kamu cintai menjadi tua. Dengarlah, kesetian itu tak ada karena di dunia ini tak ada yang abadi. Hubungan dapat terpisahkan ketika waktu yang memisahkan. Tanaman yang kau cintai telah tidur di dalam tanah, kau tetap harus mengenangnya. Karena dia bagian dari hidupmu dari awal. Menyiraminya, menabur bunga diatasnya, dan memanjatkan doa untuknya. Cinta itu seperti pohon, semakin banyak kenangan yang dimiliki semakin rimbunlah suatu pohon yang meneduhkan orang-orang dibawahnya. Hubungan yang tetap kuat dibentur oleh masalah akan menjadi batang yang kokoh dan besar, akar yang kuat dan menjalar adalah cinta yang tak ada habisnya dimakan usia, serta buah manis adalah anak-anak imut hasil bercinta kalian berdua.
Lanjut baca? Mari~ »

Thursday, January 3, 2013

Cerita Cinta Kita: Rindu Ini

0 comments


Jarak bukanlah hambatan untuk kita menjalin hubungan. Dari awal kita sudah siap menerima apapun resiko yang menghadang ketika menjalani hubungan. Banyak cobaan berat yang melintang, namun yang paling besar untuk dilawan adalah JARAK. Ya, jarak. Bathin seakan menolak untuk bergandengan dengan jarak, namun senyuman menabahkan hati ini. Banyak hubungan retak karena jarak. Apa boleh buat, kita tak bisa memaksa, inilah jalan kita. Mulai dari rasa cemburu, sedih, curiga hingga kecewa. Jarak ini membunuhku. Aku takut kehilanganmu melihat terpaut jarak antara kita. 

Hidup ini adalah perjalanan, jarak adalah rintangan, kerinduan terus menjadi beban, kita berdua menantikan pertemuan, agar senyum keluar mencuat dari perut tekanan perasaan. Ya, jarak menghambat kita, tapi jaraklah yang menguatkan hati kita. 

Aku menanti saat-sat kau kembali. Banyaknya rintik hujan yang jatuh membasahi bumi, sebanyak itulah rindu yang terpatri dalam hati. Aku hanya bisa memandang jendela yang dibasahi air hujan. Kabur-kabur yang memburamkan perasaan, badai yang mencoba menyapu ketegaran, nafas dingin membekukan kerinduan. Tapi itu takkan mampu menghalangi, aku mempunya api unggun dalam hati. Ketika aku sendiri, membeku, api unggun yang menghangati dan mencairkan. Api unggunnya adalah kata yang terucap dari mulutmu yaitu janji untuk kembali.

Aku seperti pohon, rindu seperti pucuk daun, pikiran seperti ranting pohon, dan aku siap diterpa angin puting beliung. Walaupun angin jarak meracau pucuk daunku, ketika kekeringan tanah menandaskan rantingku, tapi aku tetap aku, aku ditopang oleh akar kuat. Akar ini terus tumbuh dan menjalar ketika kau ucapkan "Aku sayang kamu dan aku merindukanmu".

Waktu terus berlalu, aku harap kau sekejap berada di depanku, datang tersenyum lalu memelukku, mengusap air mata di pipi, membelai rambut ini, dan membisikkan "Tegarlah, karena kau, aku disini. Tersenyumlah, aku datang tak untuk ditangisi, aku datang untuk menghadirkan keceriaan wajahmu lagi".

Aku tidak mau kau terus pergi, aku mau kamu disini, hadir memberikan jutaan inspirasi. Tapi aku tak bisa apa-apa. Aku relakan kamu pergi mencapai tujuanmu. Tapi berjanjilah kau akan kembali nanti... Untukku, kekasih pujaan hati.
Lanjut baca? Mari~ »